Semua yang baru ada di sini!!!
Image by Cool Text: Logo and Button Generator - Create Your Own Logo RISMAN URANG TARAJU: Mei 2013 selamat membaca kawan,,,
Image by Cool Text: Logo and Button Generator - Create Your Own Logo

Sabtu, 25 Mei 2013

perkukah preman untuk menghadapi kamu????

Hari ini, ya tragedi itu terjadi lagi. Hari ini saya menjadi saksi atas ketidakadilan yang terjadi di bangsa yang besar ini. Bangsa besar yang mementingkan diri sendiri. Bangsa besar yang tidak peduli dengan penindasan rakyat kecil. Bangsa besar, yang aparatnya menyewa preman untuk memukuli rakyatnya. Bangsa besar? Cuih!

http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/20119_4775755523220_702259006_n.jpg

Hari ini, seperti biasa, saya berangkat ke kampus untuk bertemu dengan teman-teman di Fakultas. Ya, ada beberapa hal yang hari ini harus saya selesaikan dengan teman-teman. Saya mendapatkan kabar, rekan-rekan mahasiswa, dompet dhuafa, serta paguyuban pedagang Jabodetabek tengah melakukan aksi ke Istana negara. Beberapa waktu ke belakang ini, memang isu tentang penggusuran kios pedagang ekonomi kecil di stasiun Jabodetabek tengah menjadi isu sentral mahasiswa UI. Saya sendiri pernah ikut menyaksikan betapa pedihnya melihat setiap tetes air mata jatuh dari mata para pedagang yang ladang nafkahnya dihancurkan oleh egoisme keji tersebut.

Hari ini berlangsung biasa saja, hingga pada sekitar jam 10 pagi seorang rekan menghampiri saya yang tengah berkumpul dengan teman-teman yang lain. Dengan mata yang agak berlinang air mata, keringat, serta wajah yang terengah-engah, dia berkata "Than, ayo bantuin Pocin! Pocin digusur! Cuma ada 4 mahasiswa disana!"

Kaget. Ya, massa aksi tengah terpusat ke Istana Negara. Dan jika kasusnya seperti ini, saya yakin tidak ada surat pemberitahuan bahwa hari ini akan terjadi pembongkaran di Pocin. Ya, kalau saja ada surat pemberitahuan, tentunya aksi ke Istana Negara pasti akan dibatalkan atau setidaknya ditunda. Tapi nyatanya tidak, Pocin dihancurkan. Tanpa pemberitahuan.

Saya dan teman-teman segera beranjak ke Pocin. Ada sekitar empat sampai lima orang bersama saya. Ketka kami tiba di lokasi, terlihat bapak-bapak tidak berseragam tengah menghancurkan kios-kios di Stasiun Pocin. Jujur, saya sendiri kaget bercampur bingung. Pikiran pertama yang terlintas di otak saya adalah, "ini aksi sindiran dari para pedagang dengan menghancurkan kiosnya sendiri..". Para petugas yang cukup banyak turun ke lapangan justru tidak berbuat apa-apa. Saya semakin bingung, harus berbuat apa.

Tapi ternyata orang-orang itu bukanlah pedagang, kawan. Ya, salah seorang pedagang yang ada di Stasiun tersebut berusaha untuk menghentikan orang-orang tidak berseragam yang berupaya menghancurkan Pocin. Belakangan kami mengetahui bahwa mereka adalah preman. Beberapa adalah Preman Pocin, dan yang lainnya adalah Preman Detos.

GILA! Baru kali ini saya menyaksikan aparat yang membiarkan preman menghancurkan kios rakyat. Terlebih, kemudian preman-preman tersebut menyerang kami, mahasiswa yang ada disana. Kami tidak banyak, hanya sekitar 10 orang. Kami juga hanya membawa badan kami, serta jeritan rakyat yang ada di tangan dan keringat kami. Preman bayaran tersebut banyak, lebih dari 15 orang. Mereka membawa balok-balok kayu, serta linggis. Ya, linggis.

Dan kalian tahu kawan, preman tidak seperti petugas. Preman tidak memiliki keterikatan yang kuat terhadap hukum. Saya yakin, amat yakin mereka dibayar. Dibayar untuk menghancurkan kios ini. Dan kalian tahu, kawan, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menangis di sekitar mereka. Ya meratapi atap-atap yang dihancurkan mereka. Kami, mahasiswa, mencoba menghalangi mereka. Tapi mereka adalah preman, kawan. Mereka tidak tahu, bahkan tidak peduli hukum!

Hasilnya apa, kawan? Kami dipukuli. Tidak hanya oleh tangan, kawan. Tangan-tangan mereka membawa balok kayu dan linggis. Ya, LINGGIS! Baru kali ini saya melihat, APARAT MENYEWA PREMAN PASAR UNTUK MEMUKUL MAHASISWA DENGAN LINGGIS! ya, perlu saya sebut sekali lagi? APARAT KEAMANAN MENYEWA PREMAN PASAR UNTUK MEMUKUL MAHASISWA DENGAN LINGGIS!

Sakit nggak tuh? Sebegitu takutnya kah Aparat sehingga harus menyewa Preman yang tidak peduli dengan hukum? Maaf, kawan. Jujur harus saya bilang, APARAT TIDAK MENGHALANGI PREMAN YANG MEMUKUL KAMI! Jujur, betapa sakitnya hati saya dan teman-teman saya di saat itu. APARAT KEAMANAN, lho! Mereka yang bertugas untuk mengamankan rakyat. Mengamankan mahasiswa. Sakit!

Kakak saya, Muhyi Nur FItrahanefi (Ketua BEM FKM 2013) jadi korban yang cukup parah. Kepalanya kena pukul linggis. Celananya robek, karena kena tusukan linggis yang bagian tajamnya. Bayangkan, celananya robek! Untungnya dia sempat menghindar sehingga yang kena itu hanya celanaya saja. Sahabat saya yang lain, Bima Muhammad Iqbal (FISIP 2011), beberapa kali kena pukul. Kepalanya benjol, kena reruntuhan atap yang diruntuhkan preman murahan itu ketika masih banyak orang di dalam kios. Sakit. Jujur, saya sangat sakit.

Hari itu memang menjadi sejarah. Mungkin media banyak bercerita tentang kami. Tentang mahasiswa yang menyerang kereta api-lah, membuat penumpang takut -lah, melempari batu-lah. Mereka tidak cerita tentang tragedi kemanusiaan itu, kawan. Tentang preman yang dibayar untuk melawan mahasiswa. Mereka tahu, kalau aparat yang harus memukul mahasiswa bisa jadi masalah. Mungkin mereka TIDAK MAU MENODAI TANGAN SUCINYA UNTUK MENYENTUH MAHASISWA, jadi mereka sengaja MEMBAYAR TANGAN KOTOR PREMAN UNTUK MEMUKUL MAHASISWA.

Sejujurnya, saya sendiri sebenarnya tidak setuju dengan langkah memblokir jalur rel kereta api yang diambil oleh mahasiswa dan pedagang dalam aksi tersebut. Tapi, jika kalian hadir di lokasi kawan, itu wajar. Banyak sekali pengkhianatan yang dilakukan. Kami sebenarnya hanya ingin dijelaskan hal yang sederhana. Kami hanya ingin mendapatkan penjelasan dari pihak yang sewenang-wenang melakukan penindasan ini. Ya, tidak lebih. JIKA KALIAN MEMANG MEMILIKI LANDASAN HUKUM YANG KUAT UNTUK MELAKUKAN INI, KENAPA HARUS TAKUT DAN TIDAK MENEMUI KAMI??? Itu yang membuat kami tidak habis pikir. Selama empat jam kami disana, tidak ada satupun itikad baik dari petugas KAI untuk berdiskusi dengan kami.

Sebegitu sulitkah? Sebegitu takutkah? Padahal kami tidak membawa linggis sebagaimana yang dibawa oleh orang-orang suruhan kalian, PT KAI! Padahal kami tidak membawa gas air mata sebagaimana yang dibawa oleh petugas-petugas yang melindungi ketiak kalian, PT KAI! Padahal kami hanya mahasiswa, yang membawa tangisan rakyat di pundak kami. Padahal kami hanya mahasiswa, yang mungkin kalian lebih berpendidikan daripada kami!

Tangis para pedagang mungkin sudah tidak ada artinya lagi di hati kalian. Perapihan yang kalian rencanakan memang bagus, tapi cari cara yang baik! Cari cara yang tepat, di saat yang tepat! Kenapa kemudian harus dengan cara paksa, bukan negosiasi? Kenapa kemudian kontrak yang sudah ditandatangani dan dibayar oleh para pedagang itu KALIAN LANGGAR? Kenapa kemudian harus memakai PREMAN UNTUK MEMUKUL KAMI? Tidak adakah cara yang lebih baik yang kalian miliki untuk memperbaiki bangsa ini?

Ya Allah, semoga setiap keringat dan air mata -bahkan darah- yang keluar di hari ini tidak sia-sia di hadapanMu. Semoga, mereka yang terdzhalimi dibesarkan hatinya olehMu agar tidak berdoa yang tidak-tidak kepadaMu. Besarkanlah hati mereka, untuk berdoa tentang masa depan bangsa ini ya Allah. Karena bukankah, doa orang yang terdzhalimi selalu Engkau ijabah, ya Rabb?

https://pbs.twimg.com/media/BAn1FYcCQAEwBkE.jpg:large

https://pbs.twimg.com/media/BAn0ylxCcAA4lTE.jpg:large

“Subhanallah.. Indah ya..?”
Kata-kata itu seringkali terlontar dari mulut adikku, Fitri. Adikku yang paling besar ini seringkali membuatku tersenyum. Ayah dan ibu kami telah tiada semenjak aku masih kelas 6 SD. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakakku, Farhan, tidak menyelesaikan sarjananya dan kini bekerja di Jakarta sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Dia yang bertanggungjawab menghidupi kami berlima. Dia pemuda yang sangat tangguh. Umurnya baru 23 tahun.
Aku, tinggal di Depok bersama bibiku dan ketiga adikku. Mereka adalah Fitri, Fikri, dan Fauzi. Aku hampir menyelesaikan pendidikan SMA sambil bekerja di sebuah lembaga kursus di Depok. Kursus kecil-kecilan, untuk siswa SMP dan SD. Penghasilanku hanya Rp. 500.000 per bulan. Hanya untuk membiayai sekolah Fikri dan Fauzi. Alhamdulillah, aku dan Fitri mendapatkan beasiswa di sekolah kami, SMA IT Al-Falah. Fitri baru memasuki kelas 10, dan aku berada dua tingkat di atasnya. Fikri dan Fauzi masing masing masih kelas 7 dan 9 SMP.

Adikku yang satu ini memang yang paling dekat denganku. Dia adalah satu-satunya anak perempuan dari keempat saudaraku. Aku sangat menyayanginya. Dia juga sangat dewasa. Dengannya aku merasa bahwa cinta yang halal itu sangat indah. Mencintai saudara, tentu lebih baik daripada mencintai yang belum berhak dicintai.
Fitri adalah aktivis dakwah semenjak SMP. Jilbabnya panjang dan lebar. Alhamdulillah, bibi kami memberikan pendidikan dan contoh yang baik untuk kami. Suaminya telah meninggal, tapi dia tetap tegar menghadapi kehidupan. Dia satu-satunya keluarga kami yang tersisa. Dia membantu kakak menghidupi kami. Entahlah, meskipun hidup dengan penuh keterbatasan, aku merasa keluarga ini sangat dicintai Allah. Aku selalu bersyukur atas itu.
“Kakak sayaang, ada telepon niih.. Dari Ukht Dena..” ucap Fitri pada sore itu. Kami baru saja pulang dan aku tengah membereskan barang-barang di kamar kami seraya mempersiapkan mengajar les malam ini. Jam mengajarku di lembaga kursus itu mulai bada Isya hingga pukul 20.00 WIB.
“Oh.. Iya Fit.. Bentar ya..” jawabku kemudian. Aku bersegera turun dan mengambil ganggang telepon rumah kami itu.
“Awas lho, jangan macem-macem!” ucapnya sambil memberikan telepon itu padaku. Tapi dia mendekatkan telinganya ke ganggang telepon itu.
“Idiih.. Iya-iya.. Dasar nih ya..” ucapku sambil mencubit hidungnya yang mancung. “Auw..! Diem ah..!” jawabnya sambil tetap mendekatkan telinganya ke ganggang telepon itu.
“Assalamu’alaykum, Akh..” terdengar suara dari seberang telepon.
“Wa’alaykumsalam Warahmatullah.. Ada apa, Ukht..?” jawabku.
Afwan Akh, untuk proposal kegiatan Rohis kemarin temen-temen belum punya rangkaian kata yang pas untuk tema. Antum sebagai mas’ul ikhwan ada usulan untuk ini?”
Aku berpikir sejenak. Kutatap wajah Fitri yang menunjukkan ekspresi bingung dan ingin menangkap apa yang kami bicarakan. Tanpa sengaja aku menjawab. “Bagaimana kalau Indah KaruniaNya..?”
“Kegiatan ini kan bertujuan untuk menyambut tahun baru Islam, bagaimana kalau mengangkat tema syukur atas nikmat Allah yang telah bertebaran di muka bumi. Betapa Maha Pemurahnya Allah, sehingga berjuta nikmat tetap Dia berikan meski terkadang kita melupakannya. Ana rasa, tema syukur ini tepat, mengingat SMA Al Falah kemarin juga baru saja mendapat gelar baru sebagai sekolah terakreditasi A. Ya, kita sekaligus mensyukuri itu.. Bagaimana Ukht?” lanjutku menjelaskan.
“Oh.. Iya, Insya Allah akh.. Jazakallah Khairan Katsira ya.. Nanti ana bicarakan sama Panitianya..” jawabnya.
“Wa Iyyakum, Ukht.. Kalau masih ada permasalahan, nanti kontak ana aja sekitar jam delapan.. Oke?”
“Insya Allah.. Jadwal les ya..?”
“Iya nih.. Alhamdulillah..”
“Oke.. Syukran ya Akh.. Assalamu’alaykum.. Salam buat semuanya..”
“Wa’alaykumussalam Warahmatullah Wabarakatuh..”
Fitri memandangku dengan tatapan curiga. Pipinya dikembungkan. Sangat lucu.
“Apa atuh Fit..?? Cemburu yaa..??” ucapku seraya tersenyum.
“Idiih.. Kakak mah suka gitu.. Ayo, tadi ngobrolin apa aja?” ucapnya menginterogasi. Aku tersenyum. “Mau tauuu aja..! Hehe..” ucapku seraya meninggalkannya ke atas.
***
Hari ini adalah hari kegiatan Rohis. Aku sudah ‘pensiun’ dari kegiatan keorganisasian di sekolah. Dulu aku sempat memegang peran sebagai wakil Ketua Rohis saat kelas 10 dan menjadi Presiden OSIS ketika kelas 11. Sekarang aku hanya tercatat di satu organisasi lagi, yaitu Jurnalistik Pelajar Cerdas Depok. Aku menjadi salah satu kontributor berita di salah satu rubrik di media masa pelajar ternama di Depok. Lumayan, sambil menambah-nambah uang saku. Tapi meskipun tidak  terlibat organisasi apa-apa lagi di sekolah, terkadang aku masih gatal dan ikut mengurusi beragam kegiatan sekolah, terutama Rohis.
Fitri juga terlibat dalam kegiatan Rohis kali ini. Ini adalah kali ketiga dia ditunjuk menjadi Sekretaris Kegiatan Rohis. Pertama, ketika kegiatan Pesantren Ramadhan kemarin. Selanjutnya, saat ada kunjungan pengurus Rohis ke LDK Salam UI. Dan kali ini dia menjadi Sekretaris II kegiatan akhir tahun Hijriyah.
Dia seringkali bercakap dengan Ukhti Dena, Sekretaris OSIS pada masa jihad yang sama denganku semenjak SMP. Tidak sia-sia tampaknya. Ilmu kesekretariatan tampaknya telah banyak dia kuasai. Hanya yang terkadang membuatku agak sebal adalah ketika dia seringkali mengejekku dengan Dena. Tentu saja ketika Dena tidak bersama kami.
“Kak.. Teh Dena itu baik lhoo.. Cantik lagi.. Udah gitu jilbabnya panjang.. Aku setuju kalau nanti kakak menikah sama dia..! Hehehe..” ucapnya suatu ketika. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.
“Ah, kamu ya Fit.. Jangan ngaco deh.. Emang abangmu ini siapa, berani-beraninya mengganggu akhwat se-Shaleha dia..” balasku reflek.
“Ih.. Siapa juga yang suruh ngeganggu Teh Dena? Fitri jitak duluan nanti..! Maksud Fitri khan, suatu saat Fitri mau melihat kakak sama Teh Dena di pelaminan.. Pasti asyik tuh.. Hehehe..” jawabnya kemudian. Lagi-lagi aku tersenyum. Aku turun dari kamarku, kemudian memegang kepala adikku itu.
“Iya, bidadariku.. Nanti, kakak akan menikah kalau kamu sudah menikah duluan, kemudian bahagia sama suami kamu kelak..” ucapku sambil menatap matanya dan tersenyum. Dia tersipu. Aku tersenyum melihatnya. Sangat manis.
Tapi jujur, aku akui. Aku memiliki perasaan yang berbeda terhadap Dena, partnerku semasa di OSIS dulu. Dia memang berbeda dengan akhwat kebanyakan di sekolah. Dia mas’ul dakwah di akhwat. Posisi yang sama denganku di bagian ikhwan. Meskipun ada rasa yang berbeda terhadap Dena, cintaku saat ini akan aku penuhkan untuk bibiku dan Fitri adikku. Itu yang menjadi prioritasku saat ini.
“Fit, administrasi udah beres khan?” tanyaku kepada Fitri yang tampak tengah membersihkan surat-surat tugas yang berserakan di meja piket. Aku membantunya.
“Iya kak, tinggal minta dikasih tanda tangan aja.. Terus di stamp deh ini surat-suratnya..” jawabnya.
“Oooh.. Gampang atuh kalau tinggal itu sih.. Tapi secara keseluruhan ada kesulitan gak di kesekretariatan?” lanjutku.
“Ya.. Alhamdulillah nggak ada kok.. Khan ada Teh Dena yang terus ngebantuin.. Hehehe..”
“Ooh.. Iya deh.. Alhamdulillah…” jawabku sambil terus membersihkan meja piket. Fitri tiba-tiba melihat ke arah jaketku.
“Subhanallah kak.. Indah ya..?” ucapnya. Ternyata ada kupu-kupu hinggap di jaketku.
“Ah, kebiasaan deh.. Semuanya dikomentari.. Fitrii, Fitri..” jawabku. Bukannya kenapa-kenapa, Fitri sering sekali mengeluarkan kata-kata andalannya itu. Ketika melihat hujan, dia mengucapkan itu. Saat melihat taman di rumah nenek pun dia mengucapkan itu. Bahkan ketika ada ayam sedang mematuk makanan di desa, dia mengucapkan itu juga.
Pernah pada suatu hari, dia menelponku dan meminta di jemput. Katanya dia ingin ke Rumah Sakit. Akhirnya, aku meminjam motor temanku dan mengantarkannya ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, dia bergegas menuju ke ruang bayi dan melihat bayi-bayi yang ada di inkubator. Dia menghela nafas panjang, dan berkata : “Subhanallah, indah ya Kak..!!”. Aku hanya bisa tersenyum sambil dan menghela nafas panjang mendengarnya. Padahal aku kira ada suatu kejadian atau kecelakaan. Ternyata Fitri hanya ingin melihat lucunya bayi-bayi di Rumah Sakit.
“Ih, emangnya kenapa? Khan emang indah, Kak..! Lihat deh.. Itu khan karunia Allah juga, Kak..” jawabnya.
“Iya deh, bidadariku…” jawabku sambil mencubit hidungnya. Kupu-kupu itu terbang.
“Auuw..! Ah, tuh khan.. Kakak siih.. Jadi aja kupu-kupunya terbang..” ucapnya. “Tapi subhanallah.. Indah ya kak..!” lanjutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya, seraya terus membersihkan meja piket. “Suatu saat Fitri ingin terbang seperti kupu-kupu itu, Kak.. Terbang bebas menuju taman yang indah..” lanjutnya menerawang langit. Tatapannya tampak suci dan tegas. Entah kenapa hatiku bergetar melihatnya. Dengan segera aku menetralkan perasaanku. Entah kenapa aku merasa aneh. Tapi tidak bisa aku ungkapkan.
“Afwan akh, teman-teman di atas sudah menunggu..” terdengar sebuah suara memanggil. Dena. Aku dimintai tolong untuk menjadi moderator pembuka acara di kegiatan ini. Peserta kegiatannya adalah seluruh siswa kelas 10 dan kelas 11 SMA Al Falah. Untuk akhwat, Dena menjadi moderator pembukanya. Dan di ikhwan aku yang ditugaskan untuk membuka acara.
“Oh, iya Ukht.. Jazakillah, sebentar lagi ana kesana..” jawabku. “Fit, kakak ke atas dulu ya..” ucapku kepada Fitri.
“Iya kaak..” jawabnya.
Aku pun berlalu.
***
Selesai aku menjadi moderator di salah satu materi, segera aku menuju tempat Fitri. Kulihat dia sudah tidak ada di tempat. Mungkin dia telah menyelesaikan tugasnya. Namun entah kenapa ada perasaan tidak nyaman di dalam hatiku. Entah apa.
“Kak, Jazakallah ya sudah membantu..! Tadi itu pembukaan yang sangat menarik..! Mudah-mudahan semua pesertanya juga jadi lebih tertarik ya sama materinya..!” ucap seorang Ikhwan sambil menepuk pundakku. Meleburkan lamunanku. Ternyata dia adalah Adi, ketua Rohis angkatan adik kelasku.
“Oh.. Iya Akh.. Wa iyyakum.. Gak usah dipikirkan, lah.. Ana juga senang kok kalau memang kenyataannya begitu.. Alhamdulillah..” jawabku kepadanya.
“Oke kak.. Sip.. Lain kali boleh dong jadi pematerinya..? Kayaknya memang kakak sudah pantas, kok..” lanjutnya.
“Hoo.. Insya Allah, Akh.. Ana merasa masih harus memperbaiki diri.. Tapi, selama itu untuk kebaikan dan dakwah, kenapa tidak..? Iya kan..?” jawabku.
“Sip..! Ana kagum sama kakak..! Semangka, ya…!” ucapnya.
“Apaan tuh Semangka..?”
“Semangat Karena Allah..! Hehehe..”
“Ah, Antum bisa aja..” ucapku seraya menepuk pundaknya. Kemudian mataku menerawang lapangan yang terlihat tampak sepi. Datang seekor kupu-kupu terbang di atas kepalaku. Aku jadi teringat Fitri. “Ngomong-ngomong Akh, antum lihat adik ana gak..? Dimana dia..?” tanyaku.
“Wah, ana kurang tau ya.. Sedari tadi kan ana di atas..” jawabnya. Kemudian tampak seorang akhwat lewat. “Ah, coba tanya ini Akh.. Ini PJ akhwat..” kemudian Adi memanggilnya.
“Rani, antum lihat Fitri gak..?” ucap Adi.
“Fitri adiknya Kak Fahri..?”
“Iya.. Lihat..?”
“Ooh.. Tadi pemateri akhwat minta perlengkapan barang.. Tapi yang ikhwan lagi pada gak ada.. Barangnya butuh cepat disediakan.. Jadi Fitri yang beli barang itu.. Sekarang dia mungkin lagi di jalan..” ucapnya.
“Beli barang di mana memang..?” tanyaku.
“Di sebelah pasar, Kak..” jawabnya. Aku agak kaget. Tempat itu lumayan jauh.
“Naik motor..? Sama siapa..?” lanjutku.
“Iya kak.. Sendiri..”
Degg. Aku agak tersentak kaget. Seingatku Fitri belum sepenuhnya mampu mengendarai sepeda motor. Hatiku berdebar, khawatir terjadi apa-apa dengan adikku itu.
“Kenapa tidak ada yang nemenin..? Memangnya Fitri sudah bisa naik motor..?” tanyaku dengan nada yang agak naik.
“Aduh.. emm.. Saya gak tahu kak.. Tadi samasekali gak ada siapa-siapa.. Itu juga Fitri yang nawarin kok..”
Aku hanya bisa terdiam. Dalam hatiku aku berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan kepada adikku itu. Tiba-tiba handphoneku berdering. Dari Fitri.
“Assalamu’alaykum..” ucapku.
Halo.. Halo..!” terdengar suara bapak-bapak. Aku tergugup.
“I… Iya.. Ini siapa..?” jawabku.
Ini benar kakaknya… Hei, siapa tadi namanya..?” terdengar ia tengah bicara dengan orang lain. “Kakaknya Fitri..?” lanjutnya.
“I.. Iya benar, Pak.. Anda siapa..?” jawabku.
Fitri kecelakaan, nak..! Sekarang kami tengah membawanya menuju Rumah Sakit Umum.. Tampaknya dia butuh perawaa……….” tiba-tiba suaranya putus. Tampaknya handphone Fitri mati.
“Pakk.. Pak..?! Halo..?!” ucapku setengah berteriak. Aku sangat kaget. Hatiku bingung. Apakah tadi itu informasi yang benar, atau tidak. Aku masih bingung. Seperti tersambar petir.
“Adi..! Antum bawa motor..?” tanyaku sejenak kemudian.
“Ba.. Bawa.. Kak..” jawab Adi. Dia tampak bingung.
“Ana pinjam sebentar..! Fitri kecelakaan..!” ucapku.
“Astagfirullah..!!” ucap Adi dan Rani bersamaan. “Dii.. Dimana, kak..?” ucap Adi seraya memberikan kunci motornya.
“Di Rumah Sakit Umum.. Jazakallah ya..!” ucapku seraya berlari menuju motor Adi. Sejurus kemudian aku melaju menembus angin sore hari ini. Hari yang sangat membingungkanku. Sangat mengagetkan.
Aku melaju dengan kecepatan tinggi. Kulewati mobil-mobil yang memenuhi jalan raya. Tiba-tiba sebuah motor yang juga melaju dengan kecepatan tinggi berpapasan denganku. Hampir terjadi tabrakan. Aku terjatuh. Sedangkan motor yang hampir menabrakku tidak. Orang yang mengendarai motor itu malah melaju dengan lebih kencang meninggalkanku. Tangan kiriku mengucurkan darah segar yang sangat banyak. Tanpa memperdulikannya, segera aku meraih motor Adi itu kemudian melanjutkan perjalananku. Aku tidak perduli dengan saran orang-orang untuk tidak berangkat dulu.
Setibanya aku di Rumah Sakit Umum, aku segera menuju ruang resepsionis. Aku bertanya tentang data seorang perempuan yang baru kecelakaan.
“Ada tidak, Mbak..? Ayo cepat..” ucapku.
“Ada, mas.. Ini, atas nama… Fitri..?” ucap petugas resepsionis kepadaku. Aku lemas. Ternyata yang tadi itu benar.
“Iya, mbak..! Fitri..! Di mana ruangannya..?” ucapku.
“Di ruang UGD nomor 22, Mas..”
Segera aku berlari menuju ruangan tersebut. Aku sudah beberapa kali mengunjungi temanku yang di rawat di Rumah Sakit ini. Sehingga aku agak hafal ruang-ruang yang ada di Rumah Sakit ini.
Aku sampai di ruang nomor 22. Kubuka pintu, dan....
“Maaf, pak.. Anda jangan dulu masuk ke ruangan.. Pasien tengah dalam perawatan khusus..” ucap seorang perawat kepadaku. Aku berontak.
“Saya kakaknya, Mbak..! Saya Kakaknya..!!!!” ucapku.
“Iya, mas.. kami paham.. Tolong tunggu di luar, agar perawatan bisa berjalan dengan baik..!” ucapnya lebih tegas.
Aku menyadari kekeliruanku. Segera aku beranjak menuju ke luar ruangan. Terduduk di ruang tunggu. Aku terus berdoa. Semoga Fitri baik-baik saja.
Tidak lama, datang Dena bersama dengan Rani. Mereka berlari ke arahku.
“Fahri..!! Bagaimana keadaan Fitri..?!” ucap Dena dengan nada yang agak tinggi.
Aku mencoba berdiri. Namun tiba-tiba ruangan gelap. Aku pingsan. Entahlah, mungkin darah yang keluar dari tanganku cukup banyak. Aku pingsan.
***
“Kakak… Kakak… Bangun, Kak.. Ini Fitri…” terdengar sebuah suara lembut yang memberiku kekuatan untuk bangun dari lelapku. Tak berapa lama, aku mencoba perlahan membuka mataku.
“Kakak.. Alhamdulillah, kakak sudah bangun.. Tadi kakak kecapean.. Darah kakak juga banyak keluar.. Alhamdulillah sekarang sudah sadar..” ucap Fitri. Di sekitarnya bercahaya. Wajahnya juga tampak agak tidak jelas. Aku tidak mampu berkata apa-apa.
“Kakak.. Fitri hanya ingin mengucapkan terima kasih, Kak.. Kakak udah menjadi kakak terbaik yang Fitri punya.. Kakak tidak letih membina Fitri hingga hari ini Fitri bisa jadi seperti ini..” ucapnya.
“Kak, Fitri cinta sama Kakak..!!” ucapnya. Aku menangis. Entah kenapa.
***
Aku terbangun. Aku melihat di sekitarku, semua tampak asing. Namun rasanya aku pernah melihat suasana seperti ini. Oh. Aku baru mengingatnya. Ini adalah ruang tunggu pribadi yang ada di ruang rawat UGD. Aku pernah melihat tempat ini ketika guruku sakit beberapa bulan yang lalu. Aku menjenguknya.
Aku coba gerakkan tubuhku. Tanganku yang sebelah kiri terasa sakit. Sangat sulit aku gerakkan. Aku coba angkat tubuhku dengan menopang pada tangan kananku. Aku merasa sangat lemas. Aku terbaring lagi di sofa tempat aku tertidur tadi.
“Eh, antum jangan dulu terlalu banyak gerak, Akh..” ucap seseorang. Ternyata ada Idris. Dia sahabatku.
“Tadi antum kecapean.. Darah antum banyak yang keluar.. Tuh, tangan kiri antum ada luka sobek yang cukup besar.. Nekat sih..” ucapnya mendekat. Tangannya meraba pelipisku. Aku hanya bisa terdiam. Rasanya, masih agak lemas.
“Udah mendingan.. Tadi tubuh antum panas banget.. Sampai-sampai nangis.. Sekarang udah agak turun kayaknya Akh..” lanjutnya.
Aku mencoba meraba tangan kiriku. Memang terasa sangat sakit. Sangat sulit untuk digerakkan. Aku raba juga tubuhku. Ada jaket.
“Itu jaket Ukht Dena.. Tadi waktu antum pingsan, dia langsung obati.. Dibantu sama suster.. Nah, setelah beres, dia kasih jaketnya.. Tapi tenang, Akh.. Ana yang pakein kok.. Bukan dia..” jawabnya seolah mengerti apa yang akan aku tanyakan.
“Ris.. Fit.. Fitri gimana..?” ucapku agak tersendat.
Idris terdiam. Sejenak kemudian dia menghela nafasnya. “Dia belum sadar, kawan.. Sabar ya.. Tapi dokter bilang dia hanya sedang beristirahat.. Darahnya juga banyak keluar..” ucapnya.
Aku menghela nafasku. Kemudian aku mencoba bangkit dari posisi tidurku. Meski agak terasa sakit, aku memaksakan diriku untuk berdiri. Idris menopang tubuhku. Seolah dia tahu bahwa aku ingin bertemu dengan Fitri, dia mengantarku ke ruang rawat Fitri.
Ruangannya masih satu ruangan dengan ruanganku. Di tempat itu, aku melilhat Fitri tengah terbaring tidak berdaya. Jilbab tetap membalur tubuhnya. Di sampingnya tertidur sosok Dena. Wajahnya tampak letih. Agaknya dia telah lama menemani Fitri dalam istirahatnya.
“Hari ini hari apa, Akh..?” tanyaku setengah berbisik pada Idris.
“Hari Jum’at Akh.. Antum tertidur satu hari penuh.. Ukhti Dena menemani Fitri juga sudah seharian penuh.. Tampaknya dia keletihan..” ucapnya.
“Bibi ana di mana..?” tanyaku.
“Beliau tengah keluar, Akh.. Tenang saja.. Motor yang dikendarai antum sama Fitri sudah ana perbaiki.. Biaya rumah sakit juga tidak usah antum khawatirkan..” ucapnya. Lagi-lagi seolah dia telah paham apa yang tengah aku khawatirkan. Dia memang sahabat yang baik. “Sekarang antum cukup beristirahat, Akh.. Itu cukup buat ana.. Asal antum dan Fitri bisa sehat lagi..” lanjutnya.
“Jazakallah, Akh.. Insya Allah ana usahakan nanti ana ganti, ya..”
“Akh, antum tidak usah berpikir seperti itu dulu.. Itu urusan nanti saja.. Gampang.. Sekarang antum sehat dulu..” ucapnya.
“Jazakallah, Akh…” ucapku tersendat. Aku merasa kesulitan berbicara. Masih terasa lemas. Aku kemudian melangkahkan kakiku kemudian duduk di sebelah tempat tidur Fitri. Aku elus lembut tangannya.
“Fitri.. Kamu harus bangun, Fit..” ucapku. Aku terus membisikkan kata-kata itu di dekat telinganya.
***
Hari telah menunjukkan rona merah senjanya. Sekitar 10 menit lagi waktu Maghrib tiba. Aku bersiap untuk melaksanakan Shalat Maghrib. Aku rasa aku sudah kuat untuk melaksanakan Shalat.
Saat aku hendak berdiri, aku melihat tangan Fitri menunjukkan suatu gerakan.
“Fitri.. Fitri… Kamu sadar, Fitri..?” ucapku berbisik di telinganya.
Sejurus kemudian matanya terbuka. Aku merasa sangat bahagia. Akhirnya adikku ini mampu membuka matanya dan sadarkan diri.
“Kak.. Kakak….”
“Iya Fitri.. Alhamdulillah, kamu sudah bangun..!” ucapku setengah berteriak. Langsung mendapat respon dari Dena dan Idris yang segera datang menghampiri kami.
“Iya… Fitri udah tidur lama ya, Kak..?” ucap Fitri dengan suara yang serak.
“Iya Fit.. Kamu istirahat lama sekali.. Kakak khawatir…” ucapku. “Tapi sekarang kamu udah bangun.. Alhamdulillah..!”
Suasana hening. Air mataku tak terasa terjatuh dari mataku. Dena tersenyum haru melihatnya. Idris memegang pundakku erat. Fitri tersenyum melihat kami.
“Kak…” suara Fitri tiba-tiba memecahkan suasana.
“Ya, Fit.. Ada apa..?” jawabku.
“Subhanallah… Kakak lihat gak..? Taman itu indah sekali..” ucapnya seraya menghadap ke langit-langit ruangan tersebut. Aku menatap langit-langit dengan bingung. Tidak ada apa-apa.
“Subhanallah… Indah ya Kak..! Ada kupu-kupunya juga…” lanjutnya. Aku semakin bingung. Tidak ada apa-apa di langit-langit ruangan ini.
“Fitri senang kak… Fitri diajak terbang… Subhanallah…… Indah ya…!” ucapnya seraya terpejam.
Tiba-tiba dia berhenti berbicara. Nafasnya tidak terasa lagi. Aku gemetar. Hatiku tersentuh. Aku takut. Aku segera memeriksa denyut di lehernya. Tidak ada. Hatiku tersentak. Aku sangat kaget.
“Innalillahi…..” ucap Idris seraya menguatkan tangannya di pundakku. Aku hanya terdiam. Air mataku bermuara di ujung kelopak mataku. Dena berlinang air mata melihat sosok adik kelasnya itu. Entahlah, semua terasa sangat berat bagiku.
Aku hanya mampu merundukkan kepalaku di samping tangan Fitri. Aku sangat terpukul. Tangisku meledak di sprai kasur tempat Fitri menghembuskan nafas terakhirnya. Kini aku paham. Fitri begitu sering menyebut kalimat tasbih dalam setiap kesempatan. Aku sangat mengingat itu. Kalimat favoritnya, ‘Subhanallah… Indah ya..!’ menjadi kalimat terakhir yang dia ucapkan dalam hidupnya. Dia meninggal dalam keadaan memuji Tuhannya. Fitri.. Semoga kita mampu bertemu bersama di kerajaan syurgaNya kelak..!
(Muhfat Ali)
Hidup, adalah suatu amanah besar yang telah diberikan Allah swt. kepada kita seluruh umat manusia. Apa yang kita lakukan dalam menjalankan amanah kita ini, tentu akan dipertanggungjawabkan ketika kita meninggal nanti. Dan itu merupakan suatu kepastian. Suatu kemutlakan. Setiap kita adalah pemimpin atas diri kita sendiri. Dan itu akan dipertanggungjawabkan kelak. Karena, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. 
Tasikmalaya,20 agustusJuli 1996. Suasana hari senin  itu menjadi sebuah sejarah bagi keluarga kecil yang baru. Sesosok makhluk kecil yang penuh tangis dan tawa-tawa kecil akan menghiasi kehidupan sepasang suami istri di kota tersebut. Anak tersebut merupakan anak pertama mereka. Kelahirannya tentu akan memberikan suasana baru dalam keluarga kecil tersebut.Dua orang yang paling baik yang akan diberikan amanah besar tersebut. Mereka dikaruniai Allah seorang anak laki-laki yang kelak diharapkan akan menjadi tulang punggung keluarga mereka. Menjadi sosok anak yang dapat mereka andalkan dan mampu menjadi amalan yang terus mengalir bagi mereka.
risman simanjuntak Begitulah kedua orangtuanya memberikan nama pada sesosok bayi mungil nan gembul tersebut.
Hari demi hari mereka lewati bersama. Semenjak kecil Fathan, begitu dia disapa, selalu diberikan asupan-asupan indah tentang islam oleh kedua orangtuanya. Mereka selalu menerangkan kepada sang anak, bahwa islam adalah indah. Dalam islam tidak ada pemaksaan. Karena, ketika kita telah mencintai islam, maka segala kewajiban bagi umat islam akan menjadi kebutuhan kita sendiri.
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat mutlak dimiliki oleh insan demi tergapainya kecerdasan intelektual mereka. Pendidikan sangat penting demi tercapainya generasi penerus masa depan yang berkualitas. Baik itu kualitas intelektual, emosional, spiritual dan nasionalisme mereka.
Itulah mengapa si kecil risman mulai disekolahkan semenjak usia dini. Ada yang berbeda. Sang anak mengawali masa pertama pendidikannya di Sekolah Dasar. Tidak seperti anak-anak lainnya yang melalui masa Playgroup atau Taman Kanak-kanak terlebih dahulu. dan sekarang berumur tujuh belas tahun dan mulai melanjutkan sekolah di  SMK YAPINDA,Dia juga mulai mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra di luar sekolah. Pertama, dia terpilih menjadi Pimpinan Redaksi di Citizen Journalism Forum. Itu merupakan forum jurnalistik pelajar-mahasiswa di Priangan Timur. Kemudian,dia terpilih menjadi Ketua II di Ikatan Pengurus OSIS Tasikmalaya (IPOSISTAS). Dua organisasi besar di wilayah Tasikmalaya tersebut berhasil dia taklukan. Dan itu tanpa mengurangi kualitas akademiknya di sekolah.Keberhasilan-keberhasilan yang dia dapatkan selama masa SMA akan sangat dia ingat ketika dia meraih kesuksesan kelak. Segala yang dia alami tentu dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Dan sosok bayi mungil yang kini beranjak dewasa tersebut adalah aku.
sebelum saya mengepost apa saja info penting saya mau memperkenalkan diri saya dulu:

PERKENALKAN:
NAMA:RISMAN SIMANJUNTAK
ALAMAT:KP.BATUMASIGIT,DESA SINAGAR,KEC.SUKARATU,KAB.TASIKMALAYA,WEST JAVA,INDONESIA
TTL:20/08/1996
FB:risman simanjuntak
TWITTER:@rismanAtz
CALL PERSON:6287723521084



sekian dan terimakasih semoga anda terhibur dengan kehadiran BLOG INI!!!!!!!!!



HOPE ALL YOUR WISHES CAME TRUE!!!