Subscribe On E-mail

SUBSCRIBE BLOG KAMI DI EMAIL ANDA :

Our web CEO RISMAN SIMANJUNTAK

Thursday, 27 February 2014

Sihir Salju Hokkaido

Rabu, 26 Februari 2014 | 15:11 WIB

KOMPAS/BUDI SUWARNABeberapa pemancing duduk di depan tenda mereka yang didirikan di permukaan Danau Abashiri yang membeku, Selasa (4/2/2014), di Hokkaido bagian timur. Memancing di atas permukaan danau membeku merupakan salah satu atraksi menarik di Abashiri.

  • BUAT orang tropis, Hokkaido, Jepang, di musim dingin bagai kulkas alam yang benar-benar bikin menggigil. Pemandangan cenderung serba hitam putih seperti lukisan yang digores dengan tinta cina. Ada keindahan, kehangatan, keceriaan warga di balik dinginnya salju.

Hujan salju menyambut kedatangan kami di Hokkaido yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar, awal Februari lalu. Musim dingin yang berlangsung Januari hingga akhir Maret memang sedang memuncak. Suhu udara bisa melorot hingga minus 10 derajat celsius, bahkan minus 30 derajat celsius. Itu sebabnya, turis diwanti-wanti agar memakai pakaian, sepatu, dan topi yang bisa menjaga kehangatan tubuh.

Maklum, suhu udara serendah itu cukup untuk membuat apa saja membeku, tidak terkecuali permukaan Danau Abashiri di bagian timur Pulau Hokkaido. Siang itu, Selasa (4/2/2014), air Danau Abashiri bersembunyi jauh di bawah lapisan salju tebal. Para pelancong bisa berjalan-jalan atau memacu motor salju di atas permukaan danau yang beku dan lapang di bawah sinar matahari yang malu-malu.

Yusigimo dan lima temannya memilih duduk di depan tenda dan memancing. Mereka mengebor permukaan air danau yang beku dan memasukkan tali pancing ke dalamnya. Dalam waktu singkat, umpan pancing mereka disambar ikan wasagi—ikan seperti teri yang konon enak dimasak tempura.

”Ini kegiatan yang sangat menyenangkan selama musim dingin,” ujar Yusigimo kepada kami, lima wartawan Indonesia yang mengikuti program Familiarization Trip to Japan yang diadakan Japan Tourism Agency, Japan National Tourism Organization, dan difasilitasi maskapai ANA.

Salju selama bulan Februari memang nyaris mengubur apa saja. Rumah, mobil, jalan raya, hutan, sungai, bukit semuanya tertutup salju tebal. Beberapa rumah bahkan terkubur salju hingga ke atapnya. Alam rupanya menyembunyikan warna-warni yang ceria untuk pesta musim semi April dan Mei nanti.

KOMPAS/BUDI SUWARNASembilan penguin berjalan di depan para pengunjung Kebun Binatang Asahiyama di Hokkaido, Jepang, Kamis (6/2/2014).
Toshihiro Kamba, pemandu wisata yang menemani kami, mengatakan, salju selalu turun lebih deras di Pulau Hokkaido yang terletak di bagian paling utara Jepang dan berbatasan langsung dengan Siberia. ”Kalau di Tokyo salju turun sederas ini, pasti terjadi kehebohan,” ujar Toshihiro yang tinggal di Tokyo.

Bongkahan es Siberia

Tidak hanya salju, pesisir utara dan timur Hokkaido juga lebih dingin karena menerima angin beku yang mengalir dari Siberia. Di puncak musim dingin, bongkahan es yang berasal dari air sungai dan laut Siberia yang membeku hanyut sampai Hokkaido. Saat musim semi tiba, bongkahan es itu meleleh dan mengalir lagi ke Siberia.

”Dari sini kita bisa melihat bongkahan es dari Siberia yang luasnya bisa tiga kali Pulau Hokkaido. Sayangnya, hari ini tidak kelihatan,” ujar Toshihiro ketika nongkrong di Gardu Pandang Okhotsk Drift Ice Museum di Semenanjung Shirotoko, salah satu wilayah Jepang paling dekat dengan Rusia.

Sore itu, kami menghabiskan waktu di Gardu Pandang Okhotsk dan membiarkan angin dingin Siberia yang meresap hingga ke tulang. Sebelumnya, kami melihat-lihat koleksi bongkahan es di ”kulkas” raksasa Museum Okhotsk yang bersuhu minus 19 derajat celsius.

Esok paginya, Toshihiro mengajak kami berburu bongkahan es dengan menumpang kapal wisata pemecah es. Pagi itu cuaca memburuk dengan suhu minus 9 derajat celsius. Badai salju turun deras bersama angin dingin yang bersiutan. Kapal bergerak ke tengah laut di tengah kabut yang membuat menara di pinggir pantai seperti bayang-bayang.

Setelah satu jam berkeliling, tak ada bongkahan es yang bisa ditemukan. Yang ada hanya bunga es tipis yang mengambang di permukaan laut. ”Hari ini kita tidak beruntung. Memang tidak bisa setiap saat kita menemukan bongkahan es,” ujar Toshihiro, mencoba menghibur.

Dia menceritakan, pada musim tertentu turis bisa turun ke bongkahan es dan berjalan-jalan di atasnya seperti yang dilakukan orang-orang di belahan bumi utara di masa lalu.

Istana es

Wisata musim dingin berlanjut di Sounkyu yang terletak di Taman Nasional Gunung Daisetsu, bagian utara Hokkaido. Di sini semua kehangatan yang tersisa terserap udara dingin. Sore itu suhu udara melorot ke angka minus 8 dan melorot lagi hingga minus 16 derajat celsius.

KOMPAS/BUDI SUWARNAHutan berubah warna menjadi coklat dan putih selama musim dingin di Hokkaido bagian timur.
Namun, udara dingin bukan penghalang bagi ribuan wisatawan untuk melangkah ke Sounkyo Ice Waterfall Festival yang dibangun di dasar Sungai Ishikari yang membeku. Istana es bermandi cahaya warna-warni seperti lentera raksasa di antara alam yang berwarna hitam-putih.

Istana dibuat dari struktur khusus yang kemudian diguyur dengan air. Di tengah suhu udara superdingin, guyuran air pun segera membeku, lelehannya membeku mirip stalaktit.

Festival tahunan yang digelar sejak tahun 1976 itu berlangsung mulai pertengahan Januari hingga akhir Maret. Festival itu memberi warna ceria pada suasana musim dingin Sounkyu yang sunyi dan beku.

Selain di Sounkyu, ada festival es lain yang digelar di Sapporo, salah satu kota utama di Hokkaido bagian tengah. Festival diadakan di taman kota di antara gedung-gedung perkantoran.

Kami bergerak terus ke arah barat menuju Asahikawa. Bus bergerak lambat di tengah badai salju. Hingga tiba di pintu gerbang Kebun Binatang Asahiyama, hujan salju belum berhenti. Begitu turun dari mobil, topi dan jaket yang kami kenakan memutih diselimuti salju. Kami bergerak ke bagian dalam kebun binatang dan segera bergabung dengan seribuan orang yang berbaris memanjang di atas salju menunggu sebuah atraksi spesial.

Lima belas menit kemudian, dari ujung jalan bersalju muncul rombongan penguin yang berjalan bagai pramugari berlenggak-lenggok di atas catwalk. Gerakannya yang lucu dan menggemaskan cukup untuk menghibur turis asing yang hari itu banyak datang dari China.

Meluncur di atas es

Wisata di Kebun Binatang Asahiyama seperti hidangan pembuka sebelum masuk ke wisata salju lainnya: meluncur di atas salju di Sapporo Teine—tempat bermain ski dan papan luncur yang pernah dipakai sebagai arena Olimpiade Musim Dingin tahun 1972.

Kami tiba menjelang petang ketika orang yang bermain ski jumlahnya bisa dihitung jari. Meski begitu, kereta gantung (chair lift) yang membawa pemain ski ke puncak Gunung Teine setinggi 1.203 meter belum dimatikan.

Takuya Miyakawa, pengelola Teine Sapporo, menceritakan, Teine merupakan salah satu tempat bermain ski utama di Jepang yang bisa dipakai mulai November hingga Mei. Namun, waktu terbaik bermain ski sekitar Januari-Maret. Setiap winter lebih dari 300.000 orang datang ke Teine.

KOMPAS/BUDI SUWARNASuasana pagi di sebuah resor di tepi Danau Abashiri yang membeku, Rabu (5/2/2014), di Hokkaido bagian timur. Sejauh mata memandang salju menutupi Abashiri.
Agar bisa bermain ski, pemula mesti kursus singkat dasar-dasar bermain ski setidaknya empat jam. ”Jika ingin yang cepat, kita bisa meluncur di salju dengan alas ban,” katanya.

Ia mengajak ke halaman resor yang miring dan membagikan semacam ban sebagai alas meluncur. Kami duduk di atas ban itu dan cukup dengan sedikit dorongan, tubuh kami meluncur deras di atas salju yang kering seperti tepung. Sekali mencoba, kami ingin terus mengulang.

No comments:

Post a Comment