Subscribe On E-mail

SUBSCRIBE BLOG KAMI DI EMAIL ANDA :

Our web CEO RISMAN SIMANJUNTAK

Wednesday, 19 February 2014

Topik hari ini : USTADZ



Di Indonesia, kata "Ustadz" sangat populer di kalangan kaum Muslim.
Tapi taukah anda bahwa kata "ustadz" bukan berasal dari bahasa Arab ?
Taukah anda bahwa kata "ustadz" juga sudah ada dan digunakan lama sebelum Islam turun di tanah Arab ?

Kata "ustadz" sebenarnnya bukan berasal dari bahasa Arab. Ia adalah kata 'ajami (non-Arab) persisnya bahasa Parsi / Farisi / Persia (sekarang wilayah negara Iran) yang kemudian dijadikan serapan ke dalam bahasa Arab (muarrob).

Asal kata dari ustadz (أُستاذ) adalah ustad.
Dalam kamus Al-Mu'jamul Wasith (المعجم الوسيط) kata ustadz memiliki beberapa makna :
الأُستاذ - أُستاذ:
الأُستاذ : المعلِّم .
و الأُستاذ الماهر في الصناعة يُعلِّمها غيرَه .
و الأُستاذ لقب علمي عالٍ في الجامعة . والجمع : أَساتذة ، وأَساتيذ
1. Guru / Pengajar
2. Orang yang ahli dalam suatu bidang industri dan mengajarkan pada yang lain.
3. Gelar akademis level tinggi di universitas.
Kata jamaknya adalah asatidzah dan asatiidz.

Pengertian lain dari kata ustadz adalah orang yang sangat ahli dalam suatu bidang.
Menurut pengertian ini, maka seseorang tidak pantas disebut Ustadz kecuali apabila dia memiliki keahlian dari 18 atau 12 ilmu atau bidang studi. Dalam sastra Arab seperti ilmu nahwu, shorof, bayan, badi', ma'ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fiqih, tafsir. hadits.

Konon, orang Islam pertama yang mendapat gelar ustadz adalah Kafur Al Ikhsyidi Al Isfirayini.

Di negara Arab sendiri , istilah ustadz merujuk pada dosen / ahli / akademisi / imuwan yang memiliki keahlian di bidang tertentu.
Seperti pakar tafsir dikatakan الأستاذ في التفسير

Sedang di Indonesia, kata ustadz merujuk pada banyak istilah yang terkait dengan orang yang memiliki kemampuan ilmu agama Islam dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim. Baik kemampuan riil yang dimilikinya sedikit atau banyak. Orang yang disebut ustadz antara lain: da'i, mubaligh, penceramah, guru ngaji, guru madrasah, guru ngaji kitab di pesantren, pengasuh / pimpinan pondok pesantren (biasanya pesantren modern).

Kata "ustad" (tanpa huruf 'z') juga cukup populer di India, Pakistan dan Bangladesh (dulu bernama Hindustan), namun dengan konotasi makna yang berbeda.
Di ketiga negara tersebut, ustad lebih dikenal sebagai master / maestro, yaitu orang yang memiliki keahlian khusus tertentu terutama di bidang seni. Baik seni sastra atau musik. Dan umumnya beragama Islam sedang yang Hindu biasanya disebut "Pandit" (pundit). Tidak semua pemusik dapat kehormatan mendapat julukan ustad. Beberapa seniman yang mendapat julukan ustad di India dan Pakistan antara lain: Ustad Salamat Ali Khan, Ustad Nusrat Fateh Ali Khan, Ustad Talib Hussain Pakhawaji, Ustad Muhammad Hussain Alvi, Ustad Tafo Khan, dll.

Dr. Ali Jasim Salman dalam kitab Mausuah al-Akhta' al-Lughawiyah as-Syai'ah (موسوعة الأخطاء اللغوية الشائعة) menguraikan sebagai berikut:
Kata ustadz (أستاذ) berasal dari bahasa Persia lama yang dalam bahasa aslinya ditulis istad (Persia, إستاد). Dari segi arti ia mendekati kata khwaja (خواجة) sebuah kata bahasa Parsi yang bermakna pengajar / guru, tuan, atau orang tua.

Menurut suatu pendapat, asal penyebutan "ustadz" berasal dari kisah sejarah di mana kalangan elit suatu komunitas tertentu (pra Islam) mendidik anak-anak mereka secara private dengan mendatangkan para pengajar ke istana mereka. Ketika mereka kuatir akan istri-istri mereka takut berselingkuh dengan para guru private ini, maka mereka mengebiri guru privat tersebut supaya hati mereka tenang saat para guru itu memasuki rumah mereka. Orang yang dikebiri dalam bahasa kaum tersebut adalah 'ustadz'. Seiring berjalannya waktu, maka setiap guru diberi julukan sebagai orang yang dikebiri. Saat praktik itu tidak terjadi lagi saat ini, maka julukan 'ustadz' lah yang dipakai saat ini.

Namun Al Khaffaji dalam Shifa al Ghalil fima fi Kalam al Arab min ad Adakhil tidak sependapat dengan asumsi di atas. Ia menyatakan:
Kata ustadz dengan makna "orang yang dikebiri" tidak ada dalam kosakata para ahli bahasa maupun kalangan awam di era pra Islam. Karena ustadz mengajar anak kecil dengan gaji tinggi.

Kata ustadz tidak terdapat dalam syair Jahili (era pra Islam) dan bukanlah bahasa Arab. Ia berasal dari bahasa Persia. Semua huruf dalam ustadz adalah bentuk asal. Seandainya ia berasal dari bahasa Arab, niscaya huruf asalnya adalah astadza ( أستـَذ) ikut wazan fu'lal ( فُعلال ) bukan dari satadza ( سَتـَذ َ). Apabila tidak, niscaya ia ikut wazan af'al (أفعالا). Ini tidak ada dalam bahasa Arab. Penduduk Irak (yang berbahasa Arab) memakainya karena hubungan mereka dengan bangsa Parsi. Lalu mereka pindah ke Teluk dan Suriah lalu ke belahan negara Arab yang lain.

Istilah ustadz lalu dimaknai secara umum sebagai profesi tenaga ahli seperti ahli hukum, pengacara di pengadilan di mana profesi ini setingkat dengan level pengajar di perguruan tinggi.

Kata ustadz tidak ada bentuk muannats (bentuk perempuan) karena ia bukan sifat. Jadi, yang benar adalah kata ustadz dipakai untuk laki-laki dan perempuan. (di Indonesia ustadz perempuan dipanggil ustazah, itu sebenarnya keliru)

Muhammad Al-Murtadha Az-Zubaidi dalam kitab Tajul Arus min Jawahiril Qamus menyatakan:
Guru kami menjelaskan tentang kata ustadz. Kata ini berasal dari kata yang populer yang harus dijelaskan walaupun ia bukan berasal dari bahasa Arab. Huruf hamzah yang menjadi asal telah membuat penulis buku As-Syihab Al-Fayyumi memasukkannya dalam daftar huruf hamza. Ia mengatakan, ustadz adalah kata non-Arab, maknanya adalah orang yang ahli di bidang tertentu.

Menurut Al-Hafidz Abul Khattab bin Dihya dalam kitab Al-Muttarib fi Ash'ari Ahlil Maghrib demikian:
Ustadz bukan kata bahasa Arab dan tidak terdapat di syair Jahiliyah. Masyarakat awam memakai kata ini apabila mereka mengagungkan orang yang disuka mereka menyebutnya dengan ustadz, seperti orang yang ahli dengan pekerjaannya. Karena ketika dia mendidik anak-anak maka seakan-akan dia seorang ustadz karena keb

No comments:

Post a Comment